INFORMASI

Saat ini belum ada informasi terbaru.

Universitas Muhammadiyah Palu

PALU – Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, Rabu (15/8) pekan lalu, menggelar kuliah tamu dengan menghadirkan narasumber Kasubid Sektor Primer pada Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI, Asep Nurwanda. Bertindak sebagai moderator adalah Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Unismuh Palu, Dr Hj Andi Darma Tombolututu.
Menurut Andi Darmawati Tombolututu, kegiatan kuliah tamu itu adalah wujud dari Memorandum of Understanding (MoU) yang telah ada sejak tahun lalu antara Unismuh Palu dengan pihak Kementerian Keuangan RI. Makanya perkuliahan itu diarahkan agar mahasiswa dan dosen memahami pertumbuhan ekonomi global dan domestik. “Ini adalah kuliah tamu kedua dengan tema APBN untuk peningkatan pelayanan dasar dan pengurangan ketimpangan,” jelasnya.
Kata dia, outline perkuliahan dimulai dari asumsi dasar yang dipakai untuk APBN 2019 dengan memberikan penjelasan tentang bagaimana keadaan ekonomi global dan domestik, Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang tidak dapat menutup diri dari perkembangan ekonomi dunia tetapi jika dilihat dari potensi yang dimiliki belum serapuh negara lain akibat naiknya harga minyak dunia.
“Volume pertumbuhan perdagangan global diperkirakan masih meningkat di tahun 2018. Namun sedikit melambat di 2019, sehingga aktifitas riil ekonomi global masih positif,” jelasnya.
Sementara Asep Nurwanda dalam penjelasannya menyampaikan bahwa keadaan domestik saat ini dilihat dari pertumbuhan PDB pada Q1 2018 mencapai 5,06 persen, masih lebih baik dibanding Q1 2017, dari sisi pengeluaran PDB masih ditopang oleh sektor investasi dan konsumsi RT yang dominan, PDB dari sisi produksi sektor industri tumbuh dengan baik, inflasi bulan Juni 2018 sebesar 0,59 persen atau 3,12 persen year on year (yoy), tingkat kemiskinan secara nasional terus menurun hingga ke single digit.
Kata dia, dengan keadaan ekonomi baik global maupun domestik yang terus membaik, kerangka ekonomi makro 2019 dibangun asumsi, pertumbuhan ekonomi diperkirakan dengan range 5,2 hingga 5,6 , inflasi sebesar 2,5 hingga 4,5 , tingkat suku bunga 4,6 hingga 5,2 , nilai tukar 13.700 hingga 14.000.
“Dengan asumsi ini, maka perekonomian di 2019 lebih diharapkan akan dapat meningkatkan pelayanan dasar infrastruktur, pendidikan, kesehatan misalnya untuk pembuatan jalan, saluran irigasi, air bersih, dan peningkatan SDM, sehingga akan mengurangi ketimpangan yang terjadi khusus di Indonesia bagian timur,” tandasnya.(fer)