Terminologi disruptive innovation dipopulerkan oleh Clayton M. Christensen pada 1997. Disruptive innovation dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai inovasi yang mengganggu, yang sudah disadur menjadi “inovasi disruptif”. Terminologi tersebut digunakan untuk menggambarkan suatu perubahan atau hal baru yang mengganggu keberadaan hal yang lama. Disrupsi dapat terjadi di segala bidang. Salah satu bidang yang tidak luput adalah pendidikan, terlebih pendidikan tinggi. Meski demikian, bentuk dan dampak disrupsi dalam dunia pendidikan tinggi sedikit berbeda dengan dunia bisnis. Dalam dunia bisnis, disrupsi akan mengubah peta persaingan dan structure, conduct, performance (SCP). Di dunia perguruan tinggi (PT), hal tersebut hampir tidak terjadi. Hal ini dikarenakan arus pasokan (mahasiswa) dan pasar (persaingan dengan perguruan tinggi lain) cenderung bersifat homogen. Oleh karenanya, disrupsi yang dimaksud di PT lebih merujuk pada bentuk inovasi yang membedakan produk lulusan seperti: pembelajaran jarak jauh, sistem online, akreditasi internasional, dan penggunaan teknologi dalam praktik. Berbagai inovasi tersebut tentu akan meningkatkan kualitas lulusan.

Pada pertengahan 2018, Kemenristekdikti mewacanakan 10 universitas asing yang akan beroperasi di Indonesia. Menristekdikti mencontohkan beberapa perguruan tinggi asing yang tertarik untuk beroperasi di Indonesia, yakni Universitas Cambridge dari Inggris, Universitas Melbourne dan Universitas Queensland dari Australia. Seluruh perguruan tinggi luar negeri (PTLN) asing tersebut akan membawa teknologi dari negara asalnya, termasuk kelas digital atau Virtual Learning Environments (VLEs). Kelas tidak lagi berbentuk fisik namun sudah dalam bentuk online. Dosen dan mahasiswa tidak lagi saling bertatap muka secara langsung. Berbagai kemudahan atas hadirnya teknologi ini sudah tentu akan menarik minat calon-calon mahasiswa apalagi orangtua untuk menyekolahkan anakanaknya di PTLN. Meskipun Menristekdikti menjamin bahwa kehadiran PTLN harus bekerja sama dengan perguruan tinggi swasta (PTS) Indonesia, perlu dipertanyakan apakah PTLN selalu bersedia bekerja sama dengan PTS pilihan Kemenristekdikti. Dengan kata lain, PTS, khususnya PTM, perlu berbenah diri untuk menyesuaikan diri dengan dunia disrupsi dan bersiap-siap menghadapi persaingan dengan PTLN. Dalam menghadapi persaingan dengan PTLN dalam konteks disrupsi, PTM perlu membangun kepercayaan diri atas kinerja. Perlu diingat bahwa sebagai PT, ada tiga komponen yang perlu disiapkan dalam menghadapi disrupsi: manajemen PTM (pimpinan dan staf), tenaga pendidik (dosen), dan mahasiswa. Inovasi perlu dilakukan oleh ketiga sisi ini dengan sinergitas yang tinggi. Sisi manajemen perlu berbenah dengan menghadirkan kemudahan teknologi untuk dosen dan mahasiswa. Dewasa ini, bukan lagi online sistem berbasis web yang dibutuhkan, melainkan sudah merambah pada basis Android dan iOS.

Kampus perlu menyiapkan single sign on untuk (kartu rencana studi) KRS dan informasi akademik lainnya dengan basis Android. Aplikasi ini diharapkan dapat digunakan bukan hanya untuk informasi nilai, namun juga interaksi kelas seperti meng-upload tugas, mengambil bahan kuliah dari dosen, dan lain sebagainya. Dosen juga perlu melek teknologi, tidak melulu menggunakan kelas fisik sebagai tulang punggung proses belajar mengajar, namun belajar menggunakan ruang virtual seperti google classroom. PTM juga harus berusaha meraih akreditasi internasional seperti yang telah dicapai oleh beberapa universitas besar lainnya, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM). Misalnya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM yang telah meraih akreditasi dari The Association To Advance Collegiate Schools of Business (AACSB). Selain menyiapkan single sign on untuk KRS dan informasi akademik lainnya dengan basis Android, juga diperlukan untuk menyiapkan kelas berbasis Virtual Learning Environments (VLEs). Hal ini sangat perlu dilakukan dalam rangka menyiapkan sistem pendidikan jarak jauh (PJJ). Sistem ini perlu didukung dengan beberapa langkah konkret. Pertama, perlu menyiapkan server dan provider yang besar. Investasi ini dapat dilakukan dengan upaya diplomasi kepada penyedia perangkat keras (komputer) dan jaringan (Telkom, dan lain-lain) untuk mendapatkan kerja sama dengan harapan dapat menekan biaya. Kedua, meyiapkan aplikasi ruang kelas virtual semacam google classroom, namun khusus untuk PTM. Meskipun ini hanya bersifat persiapan software, jika tidak dilakukan berbarengan dengan persiapan perangkat keras, maka akselerasi yang diinginkan akan sulit tercapai. Dengan dua langkah investasi tersebut, PTM sebetulnya sudah dikatakan siap dan mampu membuka kelas virtual dan memasuki dunia disrupsi. Meski demikian, hal-hal tersebut perlu didukung dengan kecakapan dosen dalam menggunakan fasilitas itu. Maka, perlu ditambahkan pelatihan dosen dalam menggunakan ruang kelas virtual tersebut. Diharapkan ruang kelas virtual tidak lagi hanya digunakan sebagai penunjang (tempat mengumpulkan tugas dan mengambil materi), namun juga digunakan sebagai sarana pertemuan kelas dengan sistem pengajaran jarak jauh atau sistem teleconference. Langkah terakhir adalah menyiapkan mahasiswa agar sadar akan inovasi disruptif. Untuk menghadapi era disrupsi, mahasiswa pada dasarnya harus melek teknologi. Bukan hanya bisa menggunakan teknologi, namun mampu menggunakannya sebagai alat untuk mengembangkan diri.

Semua dimulai dengan kesadaran mahasiswa untuk menggunakan teknologi dalam proses belajar mengajar. Mahasiswa diarahkan untuk menggunakan sistem online dalam belajar. Dengan kemampuan menggunakan teknologi, ditambah dengan disiplin ilmunya, mahasiswa diharapkan mampu mengadopsi inovasi-inovasi yang ada di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, akan lebih baik jika mahasiswa tidak bergantung pada lapangan perkerjaan yang ada, namun justru mampu membuka lapangan kerja sendiri menggunakan kecanggihan teknologi. Statista meramalkan akan ada 97,4 juta orang Indonesia yang aktif menggunakan ponsel pada 2020 nanti. Mahasiswa perlu melihat hal tersebut sebagai kesempatan untuk membuka lapangan kerja baru berbasis online. Dengan berbagai usaha untuk membenahi tiga sisi tersebut, diharapkan PT akan menuju kepada world class university (WCU). Di tengah era disrupsi, mobilisasi sumber daya sangat cepat terjadi. Oleh karenanya, berbagai langkah strategis tadi jika dilakukan akan memberikan lompatan sistematis yang pada akhirnya akan memberikan PT posisi yang diperhitungkan di dunia. Akhir-akhir ini pemeringkatan yang banyak dijadikan acuan adalah QS, Webometrics, 4ICU, dan lain-lain. Pemeringkatan WCU tersebut bukan semata ditujukan untuk promosi dan mendapatkan mahasiswa sebanyak mungkin. Lebih jauh, secara substansif perlu menunjukkan kualitas daya saing global. PT yang berorientasi kuantitatif lulusan tanpa memperhatikan kompetensi lulusannya, akan dengan sendirinya terseleksi secara alamiah, apalagi di tengah era disrupsi ini. Inovasi disruptif ini sangat erat kaitannya dengan revolusi industri 4.0. Sebagai badan akademis, perguruan tinggi seharusnya mampu menjadi motor pada kajian mengenai pemikiran-pemikiran inovatif dan alternatif-alternatif menghadapi dampak revolusi industri 4.0. Kampus sudah seharusnya memberikan kontribusi bukan hanya berupa mempersiapkan lulusannya menghadapi revolusi itu, namun juga harus memberikan jawaban nyata dengan kajian-kajian atau riset terpublikasi.

Revolusi yang menekankan pada pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya itu menjadi bahan yang harus diserap dan diadaptasi oleh dunia PT. Kemenristekdikti memiliki keyakinan bahwa Indonesia sangat potensial dalam hal kesiapan menghadapi revolusi industri 4.0. Menristekdikti menghimbau agar dosen sadar dengan tuntutan yang lebih baik dalam kompetensi maupun kemampuan untuk melakukan kolaborasi riset dengan profesor kelas dunia. Selain itu, dosen yang didominasi oleh generasi digital immigrant perlu meningkatkan kemampuan dalam menggunakan dunia digital sebagai ruang mengajar. Tantangan lain yang dihadapi dalam rangka memenuhi kebutuhan dosen berkualitas adalah menjaring lulusan terbaik perguruan tinggi untuk menjadi dosen. Sebagai penutup, perlu disadari bahwa disrupsi merupakan sebuah keniscayaan. Sebagai insan yang diberikan akal dan pikiran, tidak perlu berpikir pesimis, takut, bahkan antidisrupsi. Justru dengan adanya disrupsi ini, akan ada alih teknologi yang lebih cepat dan memberikan kemudahan bagi umat manusia. Mungkin sekali, waktu pekerjaan seseorang akan hilang karena telah tergerus oleh disrupsi. Meski demikian, semua perlu sadar bahwa itu merupakan pertanda bahwa sebagai manusia, semua perlu belajar kembali dan menyesuaikan diri dengan zaman. Dengan hilangnya pekerjaan itu, kita harus belajar keahlian baru yang sesuai dengan kebutuhan zaman.[]

Sumber :  Warta PTM Edisi September-Oktober 2018

Tantangan Inovasi Disruptif bagi Perguruan Tinggi