Google, IBM dan banyak perusahaan lain di Amerika tak mensyaratkan gelar sarjana dari perguruan tinggi (PT) bagi calon-calon karyawannya. Lantas, apakah perguruan tinggi masih dibutuhkan? PT seperti apakah yang masih dibutuhkan? Apakah perusahaan-perusahaan tersebut berjalan ke arah yang salah ataukah mereka mendahului zamannya?

Hal itu disampaikan oleh Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) periode 2018-2022, dalam focus group discussion (FGD) Warta PTM tentang inovasi disruptif di PT yang dihelat di Yogyakarta, Rabu (23/5/18). FGD ini juga diikuti oleh Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi dan Dewan Redaksi Warta PTM Pof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., Dr. Muhammad Samsudin, M.Pd., dan Ahmad Muttaqin, M.Ag., M.A., Ph.D. Dua peserta undangan lainnya adalah Rektor UM Kalimantan Timur Prof. Dr. Bambang Setiaji dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM Yogyakarta Punang Amari Puja, S.E., S.T., M.I.T. Menurut Fathul, berkat inovasi teknologi, perusahaan-perusahaan seperti Google dan IMB bergerak mendahului zamannya. Mereka tidak berjalan ke arah yang salah, dan ini tantangan, bukan ancaman, bagi PT. Prof. Edy dalam pengantar FGD juga menegaskan, inovasi teknologi bukan ancaman, tetapi justru membuka peluang dan kesempatan baru bagi PT. PT harus menyikapinya dengan optimis. “Inovasi dibangun dengan optimisme. Teknologi baru menciptakan kesempatan kerja baru. Mengantisipasi setelah adanya disruptive innovation, optimisme bukan panik dan terancam. Pimpinan harus memberikan harapan, bukan ancaman. Disruptive innovation jadi peluang. Ide baru, kreativitas, inovasi. Harus dimunculkan oleh perguruan tinggi,” ujar Prof. Edy. Dekan Fakultas Teknik UGM Prof, Ir. Nizam, M.Sc., Ph.D., saat dimintai pendapatnya, memadahkan via WhatsApp (9/7/18), “Pendidikan, dalam hal ini perguruan tinggi, harus mampu memanfaatkan teknologi dan perubahan yang terjadi untuk meningkatkan dan memperbaiki dirinya agar lebih efisien, adaptif, dan tetap relevan. Kata kuncinya adalah relevansi. Bagaimana perguruan tinggi tetap relevan di tengah inovasi disruptif.”
Permainan Berubah Inovasi teknologi (gawai, internet, media sosial komputasi awan) dan tuntutan yang makin kuat dari perusahaan-perusahaan (industri) dan masyarakat atas caloncalon karyawan atau lulusan PT merupakan dua dari lima perubahan permainan dalam lanskap PT, seturut Fathul, doktor alumnus Department of Information System, University of Agder Norwegia. Tiga bentuk lainnya ialah karakter mahasiswa yang berubah, kehadiran kompetitor atau pemain baru, dan regulasi pemerintah. Soal regulasi, Rektor Universitas Bina Nusantara Prof. Dr. Ir. Joseph Stanislaus Harjanto Prabowo, M.M., ketika diwawancarai via telepon (9/7/18), mengatakan, inovasi teknologi juga mendisrupsi aturan-aturan lama Kemenristekdikti. Fathul mengimbuhkan, “Teknologi baru ini sudah tidak bisa dihindari. Ini sudah qodarullah, sunatullah.” Teknologi-teknologi inovatif menggantikan tenaga dan pikiran manusia, tetapi masih ada banyak hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. “Ini jarang disentuh di perguruan tinggi. Apa itu? Kreativitas. Kreativitas itu tidak bisa digantikan oleh mesin. Saya lihat, jarang sekali perguruan tinggi, program studi, yang mengajarkan kreativitas secara terstruktur,” ujar Fathul. Karakter mahasiswa atau calon mahasiswa zaman sekarang juga berubah. Anak-anak milenial ini cenderung visual. Mereka lebih senang mengikuti kuliah yang berisi banyak video dan gambarnya daripada kuliah yang banyak ceramah dosennya. Selain itu, kehadiran kompetitor atau pemain baru juga mengubah permainan di pendidikan tinggi. Mereka adalah universitas-universitas asing yang akan masuk ke Indonesia. Sementara itu, Muhammad Samsudin mengatakan, “Yang jadi problem terbesar adalah perubahan mindset. Perubahan, ketika kita mau mengadopsi teknologi, apa pun bentuknya, itu ada dua. Pertama, dia harus meningkatkan kinerja. Itu hal pokok. Perubahan teknologi adalah peningkatan kinerja. Apa gunanya mengadopsi teknologi kalau tidak ada peningkatan kinerja. Kedua, memudahkan orang untuk belajar. Ini terkait dengan dunia pendidikan.” Rektor Universitas Bina Nusantara Prof. Harjanto menambahkan, pertama, PT sering hanya ikut-ikutan memakai teknologi, tetapi tidak fokus untuk mendidik mahasiswanya. Kedua, watak teknologi memang memudahkan manusia, tetapi pemakaiannya di PT tak lepas dari mindset para dosen. “Pokoknya, pakai teknologi, tetapi tidak fokus bagaimana menyiapkan lulusan yang punya kemampuan berbeda. Kalau lulus nanti, dia harus menghadapi kondisi berbeda dengan kita yang lebih dulu lulus,” ujar Prof. Harjanto. “Tapi, itu semua juga tidak lepas dari mindset atau kemampuan dari para dosen. Kalau tenaga pendidikan tidak siap secara mentalitas, sistem pembelajarannya mau diubah apa pun, balik-baliknya itu-itu saja,” tambahnya. Hal-hal tersebut menjadi tantangan, apalagi bagi PT-PT yang pembelajarannya tidak praktis, dosennya sulit ditemui oleh mahasiswa dan tidak menyenangkan, biaya kuliahnya mahal, dan persyaratan kuliahnya berbelit dan menyita waktu. Ditambah lagi, peluang kerja di masyarakat menurun, dan kian banyak pekerjaan yang digantikan oleh robot atau artificial intelligence (AI).
Bidang Kerja Anyar Kian banyak pekerjaan yang akan disulih dengan robot atau AI merupakan dampak dari inovasi AI, robotik, nano-teknologi, 3D printing, genetika, dan bioteknologi, ujar Punang Amari Puja, dan ini harus diantisipasi oleh PT dalam kaitannya dengan program-program studinya dan capaian pembelajarannya. Punang mengutip data dari The Economist, robot dan artificial intelligence (AI) sebagai inovasi teknologi dalam 20 tahun ke depan diperkirakan akan menggantikan pekerjaan-pekerjaan engineer, chemical, firefighter, actor, health technologist, ekonom, pilot penerbangan komersial, machinist, word processor, typist, agen penjualan rumah, technical writer, retail salesperson, akuntan, auditor, dan telemarketer. Probabilitas penggantian ini berkisar antara 2-99% Sementara itu, World Economic Forum (2016), nukil Punang, memprediksi perubahan (displacement) bidangbidang kerja antara 2016-2020. Bidang-bidang kerja instalasi, perawatan, konstruksi, ekstraksi, kesenian, desain, hiburan, olahraga, media, manufaktur, produksi, perkantoran dan administrasi mengalami penurunan. Bidangbidang kerja yang mengalami kenaikan adalah penjualan, bisnis, finansial, manajemen, komputer, matematika, arsitektur dan teknik. Maka, imbuh Punang, keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan pada masa mendatang adalah komunikasi, kreasi, inovasi, kolaborasi, berpikir analitis, penyelesaian masalah (problem solving), mencari dan mengevaluasi informasi.
Pendidikan Nilai Tantangan lain lain bagi PT adalah pendidikan nilai, tandas Fathul. Selama ini, pendidikan nilai terjadi melalui tatap muka dan interaksi langsung antara mahasiswa dan dosen dan antarmahasiswa. Padahal, aktivitas belajar mandiri lewat internet dan dan pendidikan jarak jauh (PJJ) yang menjadi tren ke depan minim tatap muka dan interaksi langsung antara mahasiswa dan dosen (tutor) dan antarmahasiswa. “Salah satu kritik besar saya kepada diskusi inovasi disruptif adalah jarang menyentuh nilai etis, moral etika. Pilihan-pilihan teknologi dan lain-lain itu punya dampak negatif, dan itu jarang dilihat. Mungkinkah konsep pendidikan Islam, mulai dari taklim, tarbiyah ta’dib itu dimasukkan ke dalam konteks diskusi inovasi disruptif. Kalau tidak, itu nanti dehumanisasi. Nilai-nilai kemanusiaan tergadaikan,” kata Fathul. Tantangan-tantangan ini wajib dijawab oleh PT yang akan bertahan dan berkembang di masa depan.[] Agung Prihantoro

Sumber :  Warta PTM Edisi September-Oktober 2018

Inovasi Disruptif di Perguruan Tinggi