Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, Prof. Dr. H. Rajindra, SE., MM menyebut kemiskinan masih menjadi persoalan serius di negeri ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data yang menunjukkan bahwa penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2021 masih sebesar 10,14 persen atau 27,54 juta orang. Angka tersebut meningkat 0,36 persen poin terhadap Maret 2020.

Katanya, selama ini kemiskinan menjadi momok yang menakutkan. Karena jika seseorang miskin berarti ia membutuhkan perjuangan yang keras untuk mendapatkan sesuatu hal dalam waktu dekat, dan belum terpikirkan untuk apa yang terjadi esok hari.

Kemiskinan juga katanya berarti tidak mampu mempunyai pendapatan yang cukup. Sebab, masyarakat miskin tidak bisa mendapatkan pekerjaan seperti yang harusnya dimiliki.

Olehnya itu kata Guru Besar Unismuh Palu ini, pemerintah harus bisa  memprioritaskan kemiskinan untuk segera dituntaskan. Kemiskinan diletakkan sebagai salah satu target pembangunan yang selalu dievaluasi dari waktu ke waktu.

Salah satunya adalah dengan menciptakan lapangan kerja yang seluas-luasnya, serta memberi kesempatan kepada anak negeri untuk diserap di lapangan kerja tersebut. “Jangan sampai sebaliknya, membuka lapangan kerja namun yang menikmati adalah orang dari luar negeri, sementara anak dalam negeri sendiri kesulitan mencari lapangan kerja,”ujar pakar Ilmu Mejemen Unismuh Palu ini, Selasa (12/4/2022).

Katanya, bangsa ini telah memasuki usia 77, dengan kekayaan alam yang begitu melimpah, baik yang dikandung di perut bumi dan di lautan, jika dikelolah dengan sebaik-baiknya sebagaimana landasan filosofi pengelolaan sumber daya alam di Pasal 33 ayat (3) UUD Negara Republik Indonesia 1945, yang menyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, dipastikan rakyat sudah sejahtera.

Tidak dipungkiri katanya, bahwa negara ini dianugerahi kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah dan menurut data Indonesia Mining Asosiation, Indonesia meraih peringkat ke-6 di dunia sebagai kategori Negara yang kaya akan sumber daya tambang. Mulai dari emas, nikel, batu bara, minyak dan gas alam yang sebenarnya bisa menunjang perekonomian masyarakat Indonesia jika dikelolah dengan baik oleh masyarakat Indonesia itu sendiri.

Akan tetapi, hampir sebagian besar perusahaan tambang di Indonesia di control oleh Negara asing, sebab adanya kesenjangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia, Teknologi dan pendanaan untuk pemanfaatan SDA tersebut, sehingga harus memanfatkan sumber dari luar negeri.

Ini merupakan salah satu problematika yang harus lebih di perhatikan oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia terkhusus dibidang industri. Bagaimana mengelolah Sumber Daya Alam (SDA) bangsa ini tanpa ada campur tangan dari warga Negara asing.

Maka dari itu anak bangsa ini kata Prof Rajindra, harus menguasai IPTEK, karena wilayah Indonesia menyimpan beranekaragam sumber daya alam yang harus terkelola dengan baik. Sebuah tantangan besar demi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.

“Inilah yang menjadi masalah kita juga, untuk itu para lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi harus bisa mencetak generasi yang mumpuni dari segi Sumber Daya Manusia, sehingga mampu mengelolah SDAnya itu,”ujarnya lagi.

Sumber:https://sultengraya.com/read/131066/prof-rajindra-kemiskinan-masih-jadi-momok-di-negeri-ini/