Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) XVI Wilayah Gorontalo, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah (Gosulutteng), Munawir Sadzali Razak, SIP., MA meminta kepada setiap perguruan tinggi melakukan transformasi yang dinamis sesuai kebutuhan dunia usaha dan Industri.

Hal itu penting dilakukan untuk menghadapi tantangan kedepan yang tidak bisa dihindari dengan semakin masifnya perkembangan teknologi. Katanya  jika perguruan tinggi tidak melakukan perubahan dan mempertahankan kebiasaan lama, dalam arti bertahan di zona nyaman, maka lulusannya dipastikan akan menjadi pengangguran.

Pasalnya, dengan kemajuan teknologi berkembang pesat seiring perubahan zaman, di era Revolusi Industri 4.0 ini diperkirakan ada sekitar 11-85 juta lapangan kerja akan hilang, dan disisi lain akan muncul sekitar 27-46 juta pekerjaan baru. “Permasalahnnya apakah alumni perguruan tinggi kita bisa mengisi pekerjaan tadi, jawabannya belum tentu, karena pekerjaan itu membutuhkan skill tertentu,”jelas Munawir, saat melakukan silaturrahmi dengan APTISI  Sulteng dan Pimpinan PTS di Unismuh Palu, Jumat (5/8/2022).

Olehnya kata Munawir, perguruan tinggi harus memastikan lulusannya itu siap bekerja dan bersaing. Saat ini saja kata Munawir sudah terdapat satu juta pengangguran di Indonesia lulusan perguruan tinggi. Itu bisa terjadi karena tidak nyambung antara skill atau kompetensi yang dimiliki lulusan perguruan tinggi dengan dunia Industri.

Untuk itu, perguruan tinggi harus melakukan koneksitas antara perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia industri. Itu bisa melalui kerjasama antara perguruan tinggi dengan dunia Industri. “Karena jangan sampai lulusan perguruan tinggi setelah wisuda, malah hanya menjadi pengangguran,”ujar Munawir.

Lebih lanjut kata Munawir, agar lulusan tidak menjadi pengangguran maka perlu memperkuat skill lulusanya, karena itulah yang menjadi modal lulusan nantinya saat berada di lapangan dan dunia Industri. Untuk itu perguruan tinggi harus melakukan transformasi yang dinamis sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia Industri. “Perguruan tinggi harus memiliki keberanian melakukan perubahan,”tegasnya.

Diantara perubahan yang harus dilakukan adalah menyesuaikan dengan kurikulum dengan Kurikulum Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM). Memasukkan praktisi mengajar di dalam kampus, hasil penelitian dosen bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, prodi harus bisa bekerjasama dengan dunia usaha. Harus merubah cara mengajar, tidak melulu ceramah namun harus berbentuk proyek.

Ketua APTISI Sulteng, Prof. Dr. H. Rajindra, SE., MM berharap, apa yang disampaikan dan harapan  Kepala LLDIKTI XVI tersebut dapat betul-betul dipahami dan dilaksanakan oleh para Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta di Sulawesi Tengah, pasalnya ini tidak hanya  menyangkut masa depan lulusan atau alumni, melainkan juga erat kaitannya dengan masa depan perguruan tinggi swasta.

“Jika lulusan kita hanya menjadi penonton atau pengangguran, maka kepercayaan masyarakat akan menurun, jika sudah menurun maka animo masyarakat untuk kuliah di kampus kita juga dipastikan akan menurun, maka itulah pentingnya kita PTS harus melakukan transformasi sesuai kebutuhan dunia usaha dan industri,”pesan Prof Rajindra.

Sumber:https://sultengraya.com/read/138095/kepala-lldikti-xvi-minta-perguruan-tinggi-lakukan-transformasi/