Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, kini mulai menggodok penerapan kampus merdeka yang sebelumnya telah diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, sebagai kelanjutan dari pendidikan merdeka.

Program tersebut dipastikan mulai diterapkan di semester gasal ini. Salah satu yang paling menonjol perbedaan antara kampus merdeka dengan yang sebelumnya adalah adanya pemberian hak kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar prodi selama tiga semester, dua semester di perguruan tinggi lain dan satu semester di kampus yang sama dan atau magang di dunia industri, dengan tujuan memberikan wawasan dan pengalaman yang luar biasa kepada mahasiswa. Karena selama ini pendidikan tinggi tidak melatih kemampuan adaptif mahasiswa.

Rektor Unismuh Palu, Dr. Rajindra, SE., MM mengatakan, tujuan dari kebijakan Kampus Merdeka, adalah untuk mempercepat inovasi di bidang pendidikan tinggi, karena pendidikan tinggi harus menjadi ujung tombak yang bergerak cepat. Karena dia begitu dekat dengan dunia pekerjaan, maka perlu mahasiswa didekatkan dengan dunia kerja, sekalipun tujuan perguruan tinggi tidak menghasilkan lulusan pekerja, melainkan lulusan yang siap menciptakan kapangan kerja yang inovatif dan kreatif.

Sebagaimana katanya yang sering diibaratkan oleh Mas Menteri Nadiem Makarim, jika perguruan tinggi selama ini hanya melatih mahasiswa satu gaya renang dan itupun dilakukan di kolam renang, bukan mengajarkan banyak gaya renang dan juga dilatih di laut bebas.

“Mas Menteri menghendaki mahasiswa dilatih banyak gaya renang dan dilatih di laut bebas. Artinya perguruan tinggi harus bisa memberikan banyak wawasan dan pengetahuan ke mahasiswa sebelum mereka lulus, agar bisa bersaing di lapangan kerja, dan itu hanya bisa dilakukan jika mereka keluar kampus dan ke dunia industri, tidak bisa mereka dapatkan jika hanya di dalam kampus saja,”ungkap rektor. Kamis (23/7/2020).

Sementara itu, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Unismuh Palu, Burhanuddin, SE., MM mengatakan, saat ini ditingkat prodi mulai menggodok penerapan kampus merdeka itu.

Dimana nantinya bagi mahasiswa yang semester 5, 6, dan 7 diberikan hak mengambil mata kuliah di luar prodi selama tiga semester, dua semester setara dengan 40 SKS di perguruan tinggi lain, satu semester di perguruan tinggi yang sama dan atau magang di dunia industri. “Jadi itu hak pilih, boleh diambil, boleh juga tidak, dan memilih salah satunya,”jelasnya.

Terkait kampus tujuan, Unismuh Palu kata Burhanuddin sudah menyediakan sejumlah pilihan, baik dalam dan luar negeri. Pasalnya kampus biru Unismuh Palu salama ini sudah menjalin kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi baik dalam dan luar negeri di bidang Tri Dharma.

Namun untuk luar negeri, berlaku syarat yang harus mahasiswa penuhi, salah satunya adalah bahasa.

Lebih lanjut kata Burhanuddin, saat ini juga telah terjadi perubahan, dimana setiap SKS diartikan sebagai ‘jam kegiatan’, bukan lagi ‘jam belajar’. Kegiatan di sini berarti belajar di kelas, magang atau praktik kerja di industri atau organisasi, pertukaran mahasiswa, pengabdian masyarakat, wirausaha, riset, studi independen, maupun kegiatan mengajar di daerah terpencil.  “Dengan itu, kini betul-betul mengedepankan hasil (lulusan) yang berkualitas,”ujarnya.